Coba Cari

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

24 November 2007

Kisah - BAPA, AKU (maaf!) KEBELET ...!

Tadi aku diminta untuk memimpin Ekaristi,
peringatan 40 hari orang meninggal.
Menarik bahwa yang kita kenangkan dan doakan tidak pernah dibaptis secara Kristiani. Well, tapi ini bukan poinnya sih.

Oleh pasangan suami-istri (keponakan almarhumah) aku dijemput pk 09:15 pagi. Ekaristi direncanakan pk 10:00. Ternyata putera mereka juga udah ada di dalam mobil. Krisna namanya. Dia baru berusia lima tahun, kelas TK-A. Dia duduk di jok belakang sendirian. Tidak ada babby sitter.

On the way ke tempat akan dirayakan Ekaristi di bilangan Rawamangun, kami pun mengobrol-ngobrol asyik, meski kami baru saling kenal. Tiba-tiba Dik Krisna bilang pengen pipis. "Masih bisa tahan, Nak?" tanya papanya, "Bentar lagi sampai koq!" imbuh mamanya. Krisna mengangguk.

Tapi tak berapa lama Krisna bilang pengen pipis lagi. Jalanan rada rame dan macet. Mama-Papanya pun serta-merta mencari-cari plastik di mobil. Ketemu! Demikianlah Dik Krisna pipis di mobil dengan plastik. Dari "nada" pipisnya, bisa kuduga pasti dia udah bener-bener kebelet.

Ah! Aku merasa disapa Tuhan hari ini. Lewat orang-tua Dik Krisna yang begitu peduli pada anak mereka. Aku seolah diajak untuk menyadari "Tuh, liat! Seperti itulah Bapa-mu care sama anak-anaknya. Apalagi kalo ada yang kebelet."

So, kalo merasa ada sesuatu yang rasanya unbearable (tak-tertahankan) boleh donk mengangkat hati dan bilang "Bapa, aku kebelet ..."


Posted by Picasa

21 November 2007

Kisah - ABBAS ATANASIUS

Konon, ada seorang rahib yang mampir dan menginap di pertapaan Abbas Atanasius, di mana tersimpan sebuah perkamen Perjanjian Lama dan Baru yang indah dan mahal. Karena tergiur oleh nilainya yang tinggi maka diam-diam diambilnya perkamen itu. Ketika suatu hari Sang Abbas hendak membacanya, perkamen tadi ternyata sudah raib.

Sementara itu, si rahib tadi mau menjual perkamen yang dicurinya. Ditawarkannya perkamen tadi dengan harga delapan-belas keping emas. “Sebentar dulu,” kata calon pembeli, “biar kutanyakan dulu kepada seseorang apakah memang perkamen itu layak dihargai sedemikian mahal.”

Maka dibawanya perkamen tadi kepada Abbas Atanasius, yang menjawab: “Ya, ini perkamen yang sangat bagus. Tawaran delapan-belas keping emas cukup layak.”

Maka si calon pembeli pun memberikan delapan-belas keping emas kepada si rahib. “Ini uangmu!” katanya, “Abbas Atanasius mengatakan bahwa delapan-belas keping emas adalah layak.” Si rahib terbelalak. “Apakah Abbas juga mengatakan hal-hal lain?” tanyanya. “Tidak,” jawab si pembeli. “Maaf, aku berubah pikiran. Aku tidak akan menjualnya sama sekali,” kata si rahib.

Maka dengan cucuran air mata pergilah si rahib tadi menjumpai Atanasius untuk mengembalikan perkamen yang dicurinya. “Tidak, Saudaraku,” kata Atanasius, “kau boleh menyimpannya. Itu pemberianku untukmu.” Tetapi si rahib tadi mendesak, “Jikalau engkau tidak mau mengambilnya kembali, hatiku tidak akan pernah merasa damai.”

Sejak saat itulah dia tinggal bersama Atanasius seumur hidupnya.

(Disadur dari: De Mello, A. Taking Flight. New York: Doubleday, 1988. Hal 164-65)

Catatan: Sebutan Abbas digunakan untuk pimpinan biara-tapa pria; sedangkan untuk pimpinan biara-tapa perempuan disebut sebagai Abdis.

Kisah - SANG BUDHA DAN BANDIT

Konon, Sang Budha pernah diancam mau dibunuh oleh seorang bandit. Angulimal namanya.

“Kiranya engkau masih mau mengabulkan permintaanku yang terakhir,” kata Sang Budha tenang, “Potonglah ranting pohon itu.”

Crezz! Satu tebasan pedang. Rampung. “Nah, apalagi?!” bentak si Angulimal.

“Cukup. Sekarang, kembalikan ranting itu seperti sedia kala,” kata Sang Budha.

“Apa?” teriak Angulimal sambil terbahak, “Kau sinting! Tak seorang pun bisa melakukan itu, bodoh!”

“Nah, bukankah engkau sendiri yang bodoh?” kata Sang Budha, “Engkau pikir engkau perkasa hanya karena bisa melukai dan merusak? Kanak-kanak pun bisa melakukannya. Seorang pendekar yang perkasa adalah yang tahu bagaimana caranya mencipta dan menyembuhkan.”

(dikisahkan oleh Anthony de Mello dalam The Heart of the Enlightened)

Kisah - SERIGALA DARI GULBIO


Gulbio adalah sebuah kota kecil di Italia. Alamnya indah. Penduduknya cukup sejahtera. Mereka hidup tenang, dan bangga sebagai warga Gulbio.

Ketenangan itu tiba-tiba terusik. Pada suatu pagi mereka menemukan sisa tubuh binatang piaraan yang tercabik-cabik. Pagi berikutnya hal yang sama terjadi. Demikianlah setiap pagi berturut-turut diketemukan sisa tubuh binatang piaraan yang mati terbunuh.

Kata seorang warga: “Semalam aku melihat seekor serigala sedang berkeliaran!” Penduduk pun gempar. Mereka ketakutan.

Maka beberapa orang diutus untuk menemui Fransiskus dari Asisi, yang dikenal bisa berbicara dengan binatang. Mereka mendesak Fransiskus untuk memperingatkan sang srigala: pertama, supaya tidak melanggar perintah Allah; kedua, supaya meneladan Kristus yang mencintai manusia; dan ketiga, karena bagaimana pun serigala tetaplah serigala, memintanya supaya mencari mangsa di kota lain saja.

Fransiskus pergi menemui sang serigala di hutan. Mereka berbicara. Lalu dia kembali ke kota dan menyampaikan pesan: “Saudara-saudari, solusinya ternyata mudah! Kalian harus memberi makan Sang Serigala, saudaramu itu.”

Saudara mereka?? Enak saja! Betapa mereka menjadi tersinggung! Tapi tak urung, mereka pun memberi makan sang serigala. Sejak saat itu pembantaian ternak berakhir.

(Diceritakan ulang oleh Andreas Toto Subagyo, SJ)