"Jalan-Kesucian bagi Umat Kristiani Milenium Ketiga"
Berdoa bukan berarti melarikan diri dari kenyataan hidup dengan segala permasalah-annya. Sebaliknya, berdoa berarti memilih untuk menghadapi kenyataan tersebut –bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan kekuatan yang datang dari Atas, yakni kuasa kebenaran dan kasih yang semata-mata bersumber pada Tuhan. Berhadapan dengan kelicikan kuasa-kejahatan, kaum beriman dapat mengandalkan Tuhan, yang pasti menghendaki apa yang baik. Mereka bisa berdoa kepada-Nya dengan keberanian untuk menghadapi kehidupan, bahkan dengan kesulitan yang paling besar sekalipun, dengan rasa tanggung-jawab pribadi, tanpa menyerah pada fatalisme ataupun reaksi-reaksi impulsif belaka (Yohanes Paulus II, 2 Januari 2002).
Diteguhkan oleh kata-kata Bapa Suci di atas, Kerasulan Doa (KD) siap-sedia mengemban dengan semangat baru pelayanan yang dipercayakan kepadanya untuk mendukung kaum Kristiani dalam menyatukan doa-doa dan kehidupan mereka dengan doa dan pengutusan Gereja universal, sebagaimana tertuang dalam ujud-ujud bulanan Bapa Suci.
Persembahan-harian
Agar doa dan kehidupan kita disatukan dengan doa dan pengutusan Gereja universal tersebut, KD menganjurkan agar hari baru selalu kita awali dengan mempersembahkan diri kita seutuhnya, baik suka-duka maupun sukses-gagal kita, bagi keselamatan dunia. Kita membuat persembahan diri ini dalam kesatuan dengan Yesus Kristus dan di bawah inspirasi Roh Kudus. Dengan persembahan ini kita bertekad hendak mengikuti teladan Yesus Kristus sendiri.
Salah satu bentuk persembahan-harian yang bersifat Triniter bisa dibuat seperti berikut:
Allah Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini.
Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan,
tindakan maupun suka-dukaku hari ini
dalam kesatuan dengan Putera-Mu Yesus Kristus,
yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia.
Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku pun siap-sedia menjadi saksi kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci untuk bulan ini: …
Cara hidup yang baru
Banyak pengalaman telah menunjukkan bah-wa persembahan-diri yang tampak bersahaja tersebut sungguh mengubah hidup orang secara luar-biasa. Sesungguhnya, akan mustahillah jika hari demi hari orang mem-persembahkan ada dan tindakannya dalam kesatuan dengan Kristus bagi keselamatan dunia, lantas serentak ia akan bersikukuh dengan sikap dan pikiran yang hanya sedikit atau malah sama sekali tidak ada nilai keselamatannya. Apabila dilakukan dengan kesungguhan yang sepantasnya, persembahan-harian akan memurnikan hati kita, pikiran maupun cara-pandang kita; sehingga juga memungkinkan kita untuk mencintai dan melayani Tuhan Allah dalam segala sesuatu. Orang pertama yang akan diubah oleh persembahan-harian tersebut tidak lain adalah diri orang itu sendiri.
Hidup kita menjadi sebuah proyek
Hidup kita tidak melulu terdiri dari alur waktu yang lewat begitu saja, pun bukan sebuah ujian yang diwajibkan untuk ditempuh. Lebih dari itu semua, hidup kita adalah sebuah proyek. Kita hidup untuk ambil-bagian dalam pembangunan Kerajaan Allah melalui setiap tindakan positip kita. Persembahan-harian membantu kita dalam upaya pencarian untuk bisa menemukan, melayani, menyentuh dan mengasihi Tuhan Allah dalam diri setiap orang, dalam segala sesuatu dan dalam segala situasi kehidupan kita.
KD dipanggil untuk “membuat setiap anggotanya menyadari nilai pengudusan maupun apostolik dari hidup harian mereka, yakni dilihat sebagai sebuah kerja-sama dengan mahakarya Sang Pencipta dan Penebus, dan menggenapkan dalam diri mereka apa yang kurang dalam penderitaan Kristus (bdk. Kol 1:24)” (Yohanes Paulus II, 1985).
Doa kita memiliki dimensi universal
Kita bekerja-sama dengan Kristus tidak hanya lewat pekerjaan dan tindakan kita. Kristus sendiri menyarankan agar kita meminta kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Mat 9:38). Sudah dari awal-mulanya, KD memanggil semua kaum beriman untuk selalu menghunjukkan doa permohonan bagi Gereja universal, dengan perhatian khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan pada karya misi. Dengan cara tersebut KD menciptakan suatu kesatuan doa yang luar-biasa dari berjuta kaum beriman. Tidak ada yang lebih diharapkan lagi di masa mendatang [kecuali kesatuan doa yang demikian itu].
Bapa Suci begitu mengakui dan menghargai kekuatan KD ini sehingga beliau sendiri berkenan mengajukan Ujud Umum dan Ujud Misi setiap bulannya. KD menyambut ujud-ujud tersebut dengan penuh cinta, dan kemudian menjadikannya sebagai doa-doa yang dipersembahkan setiap hari di seluruh muka bumi.
Melalui kuasa Roh Kudus yang ber-semayam dalam hati kita
Paus Paulus VI dalam surat yang menyatakan persetujuan beliau atas Anggaran Dasar KD pasca-Konsili Vatikan II, menekankan peran penting Roh Kudus, yang tinggal dalam Gereja dan dalam diri kaum beriman (bdk. I Kor 3:16; 6:19), yang berdoa dalam hati mereka dan bersaksi bahwa mereka adalah anak-anak angkat Allah (bdk. Gal 4:6; Rom 8:15-16.26).
Sejak saat itu, seruan kepada Roh Kudus menjadi bagian integral dari persembahan-harian berjuta orang. Adalah sebuah sukacita jika menyadari bahwa transformasi yang terjadi melalui persembahan-harian dalam diri kita semua adalah sungguh karya Roh Kudus.
Dengan hati yang menyerupai Hati Yesus sendiri
“Jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu!” Doa yang sederhana ini mengungkapkan kerinduan mendalam yang Tuhan nyalakan dalam hati kita: agar mampu mengasihi Bapa dan sesama seperti Yesus sendiri telah mengasihi mereka.
Dengan kesadaran akan hal ini, kita mesti mendengarkan sabdaNya dan merenungkan segala tindak-tanduk-Nya, sebagaimana ditulis oleh Bapa Suci pada peringatan 150 tahun KD: “Semakin seseorang belajar membiarkan doa-pribadinya diterangi oleh Sabda Allah, semakin mendalam orang itu dijiwai oleh gerak-batin Hati Kristus sendiri.”
Kebaktian kepada Hati Yesus tidak memiliki tujuan lain kecuali membuat kita semakin menyerupai Dia, percaya penuh kepada Bapa dan sekaligus penuh-perhatian terhadap sesama seperti Yesus sendiri. Keadaan jiwa semacam inilah yang hendak ditumbuh-kembangkan oleh Roh Kudus dalam hati kita.
Diteguhkan dan dibentuk oleh Kristus melalui Ekaristi
Kesatuan dengan Kristus mesti diteguhkan dan dipelihara melalui hidup sakramental. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).
Dalam Ekaristi, Kristus yang telah bangkit-lah yang memberikan Diri-Nya sebagai makanan dan minuman untuk membuat kita bersatu denganNya; untuk memungkinkan kita menyingkapkan-Nya kepada dunia, seperti tertuang dalam kata-kata Yohanes Paulus II kepada para direktur KD: “Kalian harus berusaha membentuk kaum Kristiani yang dibentuk oleh Ekaristi. Karena Ekaristi memberi mereka kekuatan untuk sepenuh hati merangkul segala segi kehidupan mereka bagi pelayanan kepada sesama seperti Tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan dan Darah-Nya yang dicurahkan (bdk. Luk 22:19dst).” (Yohanes Paulus II, 1985).
Didamaikan dengan Dia dalam Sakramen Rekonsiliasi
Mengingat bagaimana Tahun Suci ditandai oleh bertambahnya minat kaum beriman terhadap sakramen rekonsiliasi, Bapa Suci mengundang seluruh Gereja untuk memberikan perhatian khusus pada karya pastoral ini. KD akan mengikuti undangan ini karena sakramen tersebut membantu kita untuk semakin mengerti Kristus sebagai Pribadi, yang melalui-Nya Allah berkenan menunjukkan kepada kita hati-Nya yang penuh belas-kasih dan berkenan sepenuhnya mendamaikan kita dengan-Nya.
Mengikuti teladan Maria
Seperti Maria, yang mempersembahkan diri seutuhnya dan dengan murah hati terhadap pribadi dan karya Sang Putera, maka melalui persembahan-harian kita pun dengan rela membuat diri tersedia bagi-Nya demi kedatangan Kerajaan-Nya.
Akhirnya, secara singkat bisa dikatakan bahwa Kerasulan Doa
§ menawarkan jalan pengudusan
§ melalui persembahan-harian
§ yang mengubah hidup kita
§ dan menyatukan kita dengan kesatuan doa kaum beriman di seluruh muka bumi
§ melalui kekuatan Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita
§ dan yang menimbulkan kerinduan untuk memiliki hati seperti Hati Kristus,
§ sedemikian rupa sehingga karena diteguhkan dan dibentuk oleh Ekaristi § dan didamaikan dengan-Nya melalui Sakramen Rekonsiliasi,
§ kita menjadi mampu mempersembahkan diri kita seutuhnya dan dengan sepenuh hati kepada-Nya dan kepada Gereja-Nya, dengan teladan Maria, demi kedatangan Kerajaan-Nya.
Roma, 8 Juni 2003
Pada Hari Raya Pentakosta
Peter-Hans Kolvenbach, SJ
Direktur Jendral Kerasulan Doa
Tampilkan postingan dengan label Spiritualitas KD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritualitas KD. Tampilkan semua postingan
20 November 2007
Tanya-jawab Singkat Seputar Kerasulan-Doa

1. Apakah Kerasulan Doa itu?
Kerasulan Doa (KD) adalah salah satu jalan-kesucian yang disediakan dan ditawarkan Gereja Katolik kepada kita semua. Sebutan “jalan” menunjuk pada sisi dinamis dari proses yang mesti kita tempuh dengan bantuan rahmat Tuhan.
2. Apa saja praktek jalan-kesucian yang ditawarkan KD pada umumnya?
Ada lima program atau agenda. Kita diajak untuk (I) setiap hari mendoakan Persembahan-harian, dengan Ekaristi sebagai sumber dan pusatnya; (II) memupuk kebaktian kepada Hati Yesus Yang Mahakudus maupun (III) kebaktian kepada Bunda Maria; juga (IV) mengembangkan kesepahaman dengan Gereja, serta (V) mengembangkan hidup rohani secara bertanggung-jawab. Dengan demikian, KD disebut juga sebagai sekolah-doa.
3. Apakah KD itu terbuka untuk semua orang Katolik?
Benar. Karena spiritualitas KD bersifat sangat katolik (umum), maka semua orang Katolik –baik klerus, religius maupun awam-- bisa ikut serta di dalam gerakan doa ini.
Sudah sejak lama para paus menganjurkan agar setiap orang Katolik bergabung dalam gerakan doa ini. Misalnya, mendiang Paus Pius XI pernah berkata: “Ada banyak bentuk kerasulan (dalam Gereja): kerasulan doa, kerasulan kerja, kerasulan media massa, kerasulan sabda ... tetapi tidak setiap kerasulan tersebut memungkinkan semua orang Katolik bisa menjadi aggotanya ... Namun demikian, semua hendaknya menjadi anggota Kerasulan Doa karena semua bisa berdoa. Kerasulan inilah yang paling mungkin untuk semua, dan karena itulah menjadi tugas bagi semua.” (29 Sept 1927)
4. Kapan dan di mana untuk pertama-kalinya KD dimulai?
KD bermula dari gerakan sekelompok frater Jesuit (Serikat Jesus) di Vals, Prancis, pada tahun 1844. Para frater begitu antusias untuk segera bekerja di tanah misi. Tapi tugas utama mereka saat itu adalah studi. Bagaimana energi dan antusiasme itu disalurkan? Sang pembimbing-rohani (Pater F.X. Gautrelet, SJ) menantang mereka: “Jadilah rasul sekarang juga, yaitu rasul-doa! Persembahkan segala yang kaukerjakan hari ini dalam kesatuan dengan Hati Jesus untuk segala yang Dia kehendaki, yakni meluasnya Kerajaan-Nya demi keselamatan jiwa-jiwa.” Inilah cikal-bakal bentuk persembahan-harian sebagaimana kita kenal sekarang.
5. Bagaimana KD lantas menjadi milik Gereja?
Pater Henry Ramière, SJ sangat berjasa membuat gerakan tadi semakin dikenal luas, khususnya melalui bukunya tentang KD. Adanya majalah “Messenger of the Sacred Heart” (1861) juga membuat KD semakin menarik minat orang-orang lain, termasuk Paus –yang lalu mempercayakan ujud bulanan (Ujud Umum) kepada kelompok KD. Pada tahun 1929, Ujud Misi juga ditambahkan oleh Paus.
Demikianlah KD menjadi kelompok-doa milik Paus, karena selama lebih dari 100 tahun para paus tidak hanya menyetujui keberadaan KD dalam Gereja Katolik, tetapi bahkan beliau juga merekomendasikan dan mempromosikan KD sebagai “jalan kesucian” yang sederhana bagi semua kaum beriman. KD dipercayakan kepada Serikat Yesus (SY, atau SJ –Societas Jesu) untuk lebih dikembangkan.
6. Apakah dengan demikian KD lantas menjadi karya para Jesuit saja?
Tentu saja tidak. KD memang bermula dari gerakan di kalangan para skolastk Jesuit. Demikian pula Pimpinan (Jendral) dari ordo Serikat Jesus juga yang selalu ditunjuk untuk menjadi Direktur Jendral KD. Akan tetapi, KD merupakan milik Gereja. Artinya, menjadi karya kerasulan dari setiap anggota Gereja. Karena setiap anggota Gereja diharapkan turut mendukung dalam doa apa yang menjadi ujud-ujud Paus maupun para uskup di wilayah gerejawinya masing-masing.
7. Telah dikatakan bahwa kita diajak turut mendoakan ujud-ujud dari Paus. Apa artinya?
Ada ujud bulanan dari Paus, yakni yang kita kenal sebagai Ujud Umum dan Ujud Misi. Paus mengajak seluruh Gereja mendoakan apa yang menjadi permohonannya. Mendoakan berarti juga ikut mengupayakan agar permohonan itu diwujudkan. Karena Tuhan berkenan mengabulkan setiap permohonan kita dengan melibatkan kita. Lain kata, melalui dan bersama kita. Misalnya saja bersama Paus kita mohon agar “setiap orang memperoleh rezeki yang mencukupi.” Ketulusan doa kita akan menggerakkan hati kita untuk berbagi rezeki dengan siapa saja yang berkekurangan di sekitar kita.
8. Maka doa mewujud dalam tindakan. Begitukah?
Tepat. Kalau berdoa dimengerti sebagai sekedar mendoakan dengan mulut ujud-ujud bulanan Paus, maka anggapan itu tidak tepat. Doa yang benar selalu mengarah pada tindakan nyata. Yang kita doakan tidak hanya berhenti di bibir. Mestinya ujud-ujud itu meresap ke dalam hati karena kita renungkan. Dan kalau memang hati dengan tulus merenungkankannya, hampir pasti Tuhan menggerakkan kita untuk mewujudkan apa yang kita mohonkan itu.
9. Dengan demikian ada unsur kerasulan dan ada pula unsur doa?
Tepat. Disebut “kerasulan” karena ada unsur pengutusan dalam KD. Kita diutus untuk mengupayakan agar Kabar Baik disadari dan dialami oleh setiap makhluk. Lalu pengutusan ini selalu dikaitkan dengan “doa”. Kenapa? Karena upaya untuk selalu mencari dan melayani Tuhan dalam hidup sehari-hari menjadi cara-bertindak dari KD. Maka dalam KD selalu ada dua unsur ini: yakni doa (prayer) dan pelayanan nyata (service). Kerasulan dalam arti sebenarnya selalu melibatkan kedua aspek yang tak-terpisahkan ini.
10. Apa maksudnya bahwa doa dan karya merupakan dua hal tak bisa dipisahkan?
Setiap rasul-doa diharapkan bisa memadukan hidup-doa dengan tindakan-nyata. Perlu digaris-bawahi bahwa hidup-doa dan kehidupan-nyata bukanlah dua realita yang dipisahkan. Doa memberi inspirasi (spirit, api, gairah) pada hidup yang dijalani, serentak hidup-nyata menjadi pijakan nyata doa-doa kita. Lain kata, ada relevansi antara keduanya. Dimengerti secara demikian, maka seorang rasul-doa diharapkan menjadi seorang kontemplatif dalam aksi (contemplativus in actione)
11. Apakah KD memiliki (semacam) organisasi?
Ada. Pimpinan Serikat Jesus adalah Direktur Jendral KD sedunia. Karena segala kesibukannya sebagai pimpinan tarekat, biasanya beliau menunjuk seorang wakil (delegatus). Delegatus-lah yang langsung menangani KD di seluruh dunia.
Direktur Jendral juga mengangkat seorang Jesuit dalam wilayah tertentu (disebut provinsi SJ) sebagai Sekretaris Nasional, yang bertugas membantu para uskup mengembangkan KD di keuskupannya masing-masing. Adalah tugas dan wewenang setiap uskup untuk menunjuk seorang imam (bisa juga diakon) untuk menjadi Direktur KD di tingkat keuskupan. Sayangnya, di keuskupan-keuskupan Indonesia hal itu belum terjadi.
Yang bekerja-sama dengan Sekretaris Nasional maupun Direktur Diosesan disebut promotor. Ini bisa dan boleh siapa saja. Tentu saja, yang bersangkutan diharapkan mengerti dan mencoba menghayati spiritualitas KD sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar (1968) maupun Piagam Kerasulan Doa (2003).
12. Lantas bagaimana KD di Indonesia dikembangkan?
Ada majalah bulanan Utusan (Kanisius, Yogyakarta) yang turut menyebar-luaskan spiritualitas KD. Buklet tentang KD maupun leaflet ujud-ujud bulanan dari Paus pun dicetak dan disebar-luaskan. Meski masih terbatas cakupan wilayahnya, safari KD melalui Ekaristi Harian maupun Mingguan di paroki-paroki juga dibuat. Yang sedang dirancang dan diuji-cobakan saat ini adalah rekoleksi, retret (atau weekend) dan pelatihan Christian formation dengan KD sebagai titik-tolaknya.
13. Bagaimana saya bisa membantu?
Mulai saja dengan mempraktekkan apa yang ditawarkan oleh KD (lihat pertanyaan nomor 2 di atas). Apabila Anda tetap merasa tergerak untuk menjadi anggota dan/atau promotor dengan ikut menyebar-luaskan KD, Anda bisa menghubungi alamat berikut:
SEKNAS KERASULAN DOA
Jl. Johar Baru VIA/6, Jakarta Pusat 10560, Indonesia
Tlp. 021-4209377, 4201874
E-mail: atotosj@gmail.net
Langganan:
Postingan (Atom)
